Thursday, March 5, 2009

MUSLIMAH PART I

    Muslimah bercerita tentang perjalanan hidup gadis yatim piatu bernama Muslimah (21 tahun). Kisah cintanya kandas  ditengah jalan. Tepat dihari perkawinannya sebuah tragedi terjadi. Kakak tirinya, Pety, ditemukan dalam keadaan sekarat akibat percobaan bunuh diri. Pety dititik kritis dan itu membuat Muslimah terpukul. Karena dia tahu Pety bunuh diri akibat frustasi. Ternyata diam-diam Pety mencintai Dafa, calon suami Muslimah.
 Dalam keadaan hidup dan mati, Pety yang licik dan penuh intrik mengajukan sebuah permintaan. Dia menginginkan calon suami Muslimah untuk menjadi suaminya. Muslimah kaget. Tetapi dia tak punya pilihan. Dilema hutang budi membuat Muslimah harus ikhlas melepas Dafa ke tangan Pety.

  Di tengah puing-puing kehancuran yang coba ditatanya kembali, MuslimahH dipertemukan dengan Nastila. Wanita cantik yang tengah menderita kanker rahim stadium akhir, dan merahasiakan penyakitnya itu dari sang suami. Ternyata Nasyla sedang dalam sebuah misi. Dia ingin mencarikan Istri yang sholehah
untuk Rafi, dan juga calon ibu bagi kedua anaknya, jika kelak dirinya meninggal karena penyakit menakutkan itu.

  Di waktu yang tinggal menghitung hari memaksa Nasyla untuk intens mendekatkan Muslimah dengan Rafi, sampai akhirnya keduanya jatuh cinta. Namun, sebuah peristiwa memutar balik keadaan. Tiba-tiba Nasyila mendapat berita baik. Ternyata, dia tidak menderita kanker. Telah terjadi kesalahan administratif. Bukan main kagetnya Nasyla. Kini dia dihadapkan pada dilema. Haruskah dia melepaskan Rafi untuk Muslimah?
  Tak lama setelah itu, Muslimah dikagetkan oleh perubahan drastis yang ditujukan Nasyla. Tiba-tiba saja wanita baik hati itu berubah jadi monster. Kini Muslimah bukan cuma mendapat tekanan dari Pety yang masih menyimpan dendam terhadapnya,  juga harus berhadapan dengan manuver Nasyla yang setiap saat siap membuatnya terjatuh ke dalam jurang  kehancuran.
  Mampukah Muslimah mengatasi konflik hidupnya? Akankah dia bahagia?

Posted by Hanna Chan in 15:04:22 | Permalink | No Comments »

How to be a ‘WAGU GIRL’

Hanna Chan a.k.a petty a.k.a penggemar Muslimah a.k.a cewek baek a.k.a cewek tulen a.k.a alah kesel ah, hehe

Now…, i will share a little tips about How to be a wagu girl.

Wagu : *Pasaran Jawa
*Pencipta Indonesia Raya
*Yang dinyanyiin orang banyak
*Makanan pengganti nasi
Manakah yang benar?
Jawabannya adalah : -jika kamu menemukan jawabannya berarti “Selamat Anda telah memasuki Dunia KeWAGUan!”, wkwk.

Langsung aja yah, ga usah pake basa – basi, hoho…

What u gotta do are :

1. Mengupil pake jempol kaki
*efek samping : lubang hidung anda akan membesar secara otomatis
*kelebihan : semakin banyak O2 yang masuk

2. Mengaca pake kaca serutan pensil seharga hanya “Rp 500, 00″ rupiah!
*efek samping : hanya seperseratusribu dari bagian tubuh yang anda ingin lihat yang akan terlihat
*kelebihan : mudah dibawa kemana – mana dan bisa dibuat mainan kalo lagi bosen di kelas

3. Teriakkan nama teman mu yang ‘awalnya’ sama sekali nggak ada hubungannya dengan hidupmu dan jangan lupa dengan mesra! berikan belaian – belaian dengan menggunakan alat ‘sapu lidi’ untuk melakukannya!
*efek samping : siap – siap masuk Rahasia Ilahi. “Wanita Penggoda, jasad berbau wangi sapiteng.
*kelebihan : terkenal jadi artis TiPi walaupun cuman TV Boroboro

4. Mengerjakan soal matematika dengan jawaban geografi, mengerjakan soal b.inggris dengan jawaban b. jepang, mengerjakan praktek olahraga dengan praktek kimia, dst.
*efek samping : 24 jam dari praktek anda akan ditangkap pihak yang berwenang (RSJ)
*kelebihan : menambah banyak teman terutama teman berimajinasi =D


5. Cium jidadmu dengan lidahmu sebanyak 3 kali.

*efek samping : lidah akan menyaingi PHYTON
*kelebihan : masuk Guinness Book of Record
lidah dapat digunakan untuk menyimpan kepekan pada saat ulangan

So, how is it? gampang kan!!! Ga susah kok, praktekin aja deh! Dijamin… Kamu bakal langsung di CAP WAGU. And…

WELCOME TO THE KEWAGUAN WORLD!!=@
Posted by Hanna Chan in 12:34:37 | Permalink | No Comments »

Clothes for daily

Clothes for daily

even the style and fashion for the monkey is need!

Offer Put item name here for Sell, March 5, 2009

Put description here

Location my new store
Price Rp 35.000,00 – secret
Expires on 5 March 2009

Posted by Hanna Chan in 12:01:10 | Permalink | No Comments »

Wednesday, March 4, 2009

Hana kan kelasnya deket ma mushola, jadi, jadi, Hana posting yang alim ah… hoho

70 Dosa Besar dalam Islam

Beberapa dosa besar atau kaba’ir dalam Islam adalah sebagai berikut:

1. Menyekutukan Allah atau Syirik

2. Membunuh Manusia

3. Melakukan Sihir

4. Meninggalkan Shalat

5. Tidak Mengeluarkan Zakat

6. Tidak Berpuasa ketika bulan Ramadhan tanpa alasan yang kuat

7. Tidak Mengerjakan Haji Walaupun Berkecukupan

8. Durhaka Kepada Ibu Bapa

9. Memutuskan Silaturahim

10. Berzina

11. Melakukan Sodomi atau Homoseksual

12. Memakan Riba

13. Memakan Harta Anak Yatim

14. Mendustakan Allah S.W.T dan Rasul-Nya

15. Lari dari Medan Perang

16. Pemimpin Yang Penipu dan Kejam

17. Sombong

18. Saksi Palsu

19. Meminum minuman beralkohol

20. Berjudi

21. Menuduh orang baik melakukan Zina

22. Menipu harta rampasan Perang

23. Mencuri

24. Merampok

25. Sumpah Palsu

26. Berlaku Zalim

27. Pemungut cukai yang Zalim

28. Makan dari harta yang Haram

29. Bunuh Diri

30. Berbohong

31. Hakim yang Tidak adil

32. Memberi dan menerima sogok

33. Wanita yang menyerupai Lelaki dan sebaliknya juga

34. Membiarkan istri, anaknya atau anggota keluarganya yang lain berbuat mesum dan memfasilitasi anggota keluarganya tersebut untuk berbuat mesum

35. Menikahi wanita yang telah bercerai agar wanita tersebut nantinya bisa kembali menikah dengan suaminya terdahulu

36. Tidak melindungi pakaian dan tubuhnya dari terkena hadas kecil seperti air kencing atau kotoran

37. Riya atau suka pamer

38. Ulama yang memiliki ilmu namun tidak mau mengamalkan ilmunya tersebut untuk orang lain

39. Berkhianat

40. Mengungkit-Ungkit Pemberian

41. Mangingkari Takdir Allah SWT

42. Mencari-cari Kesalahan Orang lain

43. Menyebarkan Fitnah

44. Mengutuk Umat Islam

45. Mengingkari Janji

46. Percaya Kepada Sihir dan Nujum

47. Durhaka kepada Suami

48. Membuat patung

49. Menamparkan pipi dan meratap jika terkena bala

50. Menggangu Orang lain

51. Berbuat Zalim terhadap yg lemah

52. Menggangu Tetangga

53. Menyakiti dan Memaki Orang Islam

54. Derhaka kepada Hamba Allah S.W.T dan menggangap dirinya baik

55. Memakai pakaian labuhkan Pakaian

56. Lelaki yang memakai Sutera dan Emas

57. Seorang hamba (budak) yang lari dari Tuannya

58. Sembelihan Untuk Selain Dari Allah S.W.T

59. Seorang yang mengaku bahwa seseorang itu adalah ayahnya namun dia tahu bahwa itu tidak benar

60. Berdebat dan Bermusuhan

61. Enggan Memberikan Kelebihan Air

62. Mengurangi Timbangan

63. Merasa Aman Dari Kemurkaan Allah S.W.T

64. Putus Asa Dari Rahmat Allah S.W.T

65. Meninggalkan Sholat Berjemaah tanpa alasan yang kuat

66. Meninggalkan Sholat Jumaat tanpa alasan yang kuat

67. Merebut hak warisan yang bukan miliknya

68. Menipu

69. Mengintip Rahasia dan Membuka Rahasia Orang Lain

70. Mencela Nabi dan Para Sahabat Beliau

Posted by Hanna Chan in 17:42:50 | Permalink | No Comments »

The feeling that you’re being pushed into taking a certain and perhaps inflexible course of action is likely to cause irritation and tension. Mixed planetary influences suggest that fighting fire with fire won’t be a good strategy. A flexible attitude on your part is what will draw attention to someone else’s unreasonableness!

Compatible Sign today for
Love: Sagittarius  Friendship: Aries

Lucky Numbers for today:
6, 15, 18, 22, 39, 44

Star Ratings for today:

Love:
3 stars

Money:
3 stars

Mood:
3 stars

Style:
4 stars


This week’s Moon Phase & planetary positions

Posted by Hanna Chan in 17:38:03 | Permalink | No Comments »

curhatan hanna chan a.k.a petty a.k.a dafa’s wife wannabe =P

Rumah yang sunyi, 5 Maret 2009

huwa…

udah lama, ga posting….

ummm…

TODAY?

*Ada praktek Biology. Gila…, masak disuruh ngecek alias ngetes urin sih. Trus aku deh yang kebagian menyumbangkan, haha.

*Tadi aku nangis di kelas. Habisnya…, banyak masalah sih… bukan karena Dol Mie Ayam BEDAGAN kok, hehe.

*Tadi Smaga tanding basket di Pop Mie Cup, tapi sayangnya aku nggak dibolehin nonton! Bukan sama bonyok atau nenek atau eyang atau yang lain. Tapi karena cowok! Huwaaa, cowokku posesif. Hikz _T
Malah akhirnya aku les, trus jadi FISIKAWATI deh, wkwk.

*Temen – temen aku ngerjain aku nih, aku jadi lembur lagi. hoho

*Nonton Edward Scissors Hand…, jadul abbiizzz…

See ya…

Hanna Chan
Posted by Hanna Chan in 17:18:02 | Permalink | No Comments »

Wednesday, February 25, 2009

loving someone is beautiful

loved by someone is more beautiful

loved by someone whom you love is EVERYTHING…

Hanna Chan
Posted by Hanna Chan in 12:53:29 | Permalink | No Comments »

just try to say something_T

Hot city yg hujan,  25  Februari 2009

today…

nothing special ci….

crita satu2 ah!!!

1. tadi berangkat skula, dengan hati kecut (emang jeruk!)… coz, nyaris n hampir telat bowk. Untungke, bokapku sakti mandraguna, jadi ya ga jadi kecut deh… haha*

2. weleh, ibunya B.Ing ga masuk bowk. Alhamdulilllah juga ci, akhirnya, sehari bebas ‘yah okay’ nya yang gag nahaaaan! trus akhirnya saya (sebagai sekretaris kelas PANDHAWA), akhirnya disuruh nulis gitu deh. Tapi, malah Briyan yang ngetikin, yawes Alhamdulillah lagi, wkwk. Trus, si Bozhe tuh ketularan virus kecut lohhh. Coz, dia serba bingung, mau ngetik jawabannya apa soalnya. Sabar cuy!

3. trus.trus giliran MARGONOpaper yang ngambil alih kelas (wejan,wkwk). Korban hari ini yaitu si Teddy Bear alias Fikri. Dasar yang namane Margondang, yawdah disalah – salahke trus (emang salah sih,hehe).

4. giliran pelajarannya Bu B.ind yang nggondukke =P. Seperti biasanya aku en Andra tuh ngerjain tugas DADAKAN (nyaingin ulangan DADAKAN nda!wkwk). Pokoknya olahraga tangan lah! Trus, diskusiin drama ma Dama, Bozhe, Huda, Petty, Sekar, Anin, ma Tita. Idenya ci drama ne niru2 si Kasih gitu (sinetron sebelum Muslimah, red.). Trus, eh malah jadi burem iwk,wkwk. Dama juga malah nyanyi campursari ma dol mie ayam alias Khalida. Kelas yang aneh!

5. Pelajaran Nyai Ronggeng, yang terakhir ci. Btw, ada yang bikin aku bad mood sak bad mood e bad mood e bad mood (bacane piye jal?wkwk). Pokoknya tuh pas pelajaran ini tow masa yang namanya hasil UHT Sejarah dibagiin en tau ga kalo nilaiku kacek 1 dari batas tuntas!!! (bukan B.Ind yang baek!). Trus, aku dapet 74! Ga rela rasanya! Masa nilaiku anjlok2 semua. Pokoknya aku mau belajar ah. Biar jadi Pelajarwati. HIKZ_T

6. Aku lagi mau ngerjain Mat nih, trus ngerjain LKS Penjas, trus ngerjain proposal GPW,

7. BTW, aku bolos les lohhh! Lahwez, kasihan bapake les ntar kejeduk2 kalo lihat aku dateng!wkwk

8. Aku sambil nonton Muslimah nih!

Hanna Chan
Posted by Hanna Chan in 12:29:47 | Permalink | No Comments »

Tuesday, February 24, 2009

GEMINI only

Gemini Horoscope (24/ 02/ 09)


Daily Flirt:

You’re focused on work a little more than you would really like, but you know it’s vital. Whether you’re looking for a new gig or trying to get more out of what you’re already doing, now is the time.

Daily Couples:

Save the heavy conversation with your loved one for another time. You’re not feeling at your best, so don’t risk saying the wrong thing. Today, focus on things you know you agree on.

Daily Singles:

Someone could run over your foot today and you’d just wave them off as if nothing happened. That’s where your head’s at today. Though oblivion feels great, don’t shirk reality. Check in from time to time during the day to make sure you don’t miss anything.

Posted by Hanna Chan in 17:10:15 | Permalink | No Comments »

Kamra dan Kamera

Kamra dan Kamera

 

 

     “Kamra….,”teriak seorang cewek dari kejauhan manggil nama gue. Spontan gue langsung membalikkan badan, dengan gaya yang wuih…, biasa aja tuh. Hehe…

            “Oh, loe Gin. Gue pikir syaiton darimana manggil – manggil nama gue siang – siang bolong gini…”canda gue sambil mringis enggak karuan.

            “Enak aja loe. Eh, ntar balik skul jadi kan?”

            Hufht…,ini nih yang gue sebel. Resiko temenan sama seorang Ginsha yang shopping a holic gitu lohhh… (triple h bahkan…hehe). Pasti dia ngajak gue muter – muter sampe puyeng, ngluyur kayak sayur eh salah maksud gue kayak anak ilang, trus ujung – ujungnya…………………… ‘photo box!!!’ Ah…,tidaaaaaaakk…

            “Hm…, tapi nggak usah pake acara foto – fotoan ya?”tanya gue sambil memasang tampang seimut kucing buangan. Kayak gimana tuh?hehe.

            “Aduuhhh, Kamra bisa nggak sih loe ngilangin rasa phobia loe dengan sesuatu yang berbau foto itu? Ke RSJ kek, ke psikiater kek, ke dukun cabul kek, eh bukan – bukan maksud gue ke dukun canggih!!!”

            “Heh, loe pikir gue mahluk apaan loe suruh ke tempat – tempat kayak begituan?”

            “Loe kan mahluk nggak jelas. Tapi, yang jelas loe bukan mahluk Tuhan yang paling seksi, itu kan udah jadi predikat gue,”Ginsha menimpali lalu menirukan gaya Miss Unikeperes yang lagi sok ‘say hi’ gitu.

            “Eh, cukup ya fantasinya… Ginsha gue tuh nggak phobia kali sama kamera,”gue terus ngotot ke Ginsha dan melipat muka gue jadi lima.

            “Haloo? Kam,loe…”

            Belum sempat Ginsha menyelesaikan kalimatnya, gue langsung bilang,“Halo juga.”

            “Kamra, kamra…, trus apa namanya kalo setiap mau difoto mesti loe nangis kalo enggak teriak – teriak kayak orang gila kesurupan?”kata Ginsha setengah sinis.

            “Huh, itu kan cuma…”

            Kali ini Ginsha membalas dendam, belum sempat gue ngomong dia langsung bilang, “Cuma apa?”

            “Kamra…”sebuah suara yang bisa dibilang agak fals tapi ya berhubung waktunya tepat gue anggap merdu aja deh.Hehe.

            “Eh, loe Di. Ada apa?”tanya gue.

            “Loe dipanggil guru tuh. Biasa, tugas OSIS,”jawab si empunya suara yang nggak tahunya seorang cowok yang bernama Relfo. Soalnya tadi gue kira banci. Hehe.

            “Oke deh! Eh, udah dulu ya Gin. Ntar lihat sikon deh jadi atau nggaknya. Dadah.. Muah, muah.”gue langsung bergegas menginggalkan temen gue itu yang udah mulai nangis darah. (Lebai amat,hehe).

Fiuh, gue emang paling males kalo berurusan sama yang namanya fotografi atau apalah itu. Orang – orang mengira kalo gue phobia atau kelainan. Yah, kalo dibilang phobia…, emang sih nggak sepenuhnya salah. Sejak kejadian tujuh tahun silam itu…

“Kam, Kamra? Loe nggak apa – apa kan?”suara Relfo membuyarkan lamunan gue.

“Hah? Apaan?”timpal gue asal.

“Loe nggak apa – apa kan? Jangan – jangan loe terkena amnesia? Kok nggak inget apa – apa?”

“Iya nih gue siapa? Ada dimana? Loe siapa?”jawab gue setengah bercanda dan ternyata malah…

“Kamra… maafin gue. Padahal suwer, tadi loe nggak gue apa – apain kok jadi gini? Wuaaa…”Relfo dalam bentuk cewek, eh cowok yang aneh keluar.

“Heh, mana mungkin gue amnesia tanpa sebab. Kalo loe yang amnesia tanpa sebab baru mungkin…”canda gue lagi.

“Hah? Masa? Ya Allah, semoga gue nggak amnesia tiba – tiba. Amien,”ratapnya.

“Amien… Eh, udah – udah ah. Udah nyampe nih, makasih ya. Sana gih, masuk kelas cepet. Ntar kena amnesia loh!”sahut gue sambil tersenyum dan dijawab oleh kepergian Relfo sambil lari tunggang langgang. Relfo emang kelihatan cool dan dia juga lumayan punya nama di SMA Cahaya Bangsa ini. Tapi…, nih anak tuh lemot dan sering salah tangkap. Dulu aja ada yang pernah nembak dia di hari Valentine malah dikiranya hari itu adalah Hari Pendidikan Nasional. Mana ada Hardiknas ngasih cokelat?

Aduh, lama banget gue nungguin di ruang guru, tapi nggak ada yang dateng. Oke, balik lagi ke topik yang awal banget alias tentang keluh kesah, resah, dan gelisah gue tentang phobia gue(hehe). Gue juga sempat bingung dan kepikiran melulu soal phobia gue ini. Temen – temen gue yang ‘normal’ umumnya pada suka difoto apalagi yang gratisan, paling – paling mereka absen foto pas ada jaman yang ngeharusin bayar dulu baru foto(ada nggak sih?hehe). Gue juga jadi malu kalo mengingat gue punya nyokap yang seorang model papan triplek, eh maksud gue papan atas yang otomatis sering difoto – foto. Kok anaknya malah kayak gini? Aduuuuhhh, coba ada sesuatu yang bisa nyembuhin phobia gue ini kayak yang ada di komik ‘Angel Lip’(khayal lagi!hehe).

“Kamra…”suara seorang guru Fisika ngagetin gue.

“Iya Pak?”jawab gue.

“Tolong antarkan murid baru ini berkeliling sekolah dan antarkan juga dia di kelas barunya, kelas 11 ipa 2,”kata guru Fisika itu yang menurut gue sambil setengah menjelaskan.

“Baik Pak,”jawab gue mantap. Lagipula kelas 11 ipa 2 itu adalah kelas gue.

Anak baru itu seorang cowok.(masa banci?hehe). Dia punya hidung, mata, mulut, pokoknya lengkap deh(hehe). Badannya tinggi tegap, bahunya bidang, matanya kecokelatan, tetapi menunjukkan sorot mata yang dingin dan angkuh. Dia menjinjing sebuah ransel biru dan ya ampuuunnn…., dia membawa kamera yang digantungkan di lehernya. Aduuuhhh, hanya dengan melihatnya aja udah bikin hasrat ingin muntah. Huek…

“Woi, jangan bengong dong!”teriak cowok itu ketus.

“Ih, siapa lagi yang bengong,”jawab gue nggak kalah ketus. “Eh, nama loe siapa?”tanya gue sekaligus mencoba mencairkan suasana.

“Nama gue Tian,”jawab dia sangat singkat dan padat.

Ih, sebel banget deh. Sama sekali nggak nyodorin tangan? Balik nanya kek? Atau basi – basi apaan gitu? Huh…

Gue sengaja berhenti secara  tiba – tiba. Habis, buat apa gue nganterin mahluk kayak dia?

“Loh kok berhenti? Loe nggak nunjukkin tempat – tempat di sekolah ini?”tanyanya sembari memasang tampang kebingungan.

“Sorry ya, tapi gue bukan peta!”jawab gue asal.

“Hahaha…,”dia malah ketawa. Wah, tapi kalo diperhatiin dia manis juga ketika sedang ketawa. “Ups, sorry. Kelepasan,”dia berhenti ketawa secara tiba – tiba.

“Nggak apa – apa kok. Gue Kamra,”kenal gue sambil nyodorin tangan.

“Wah, nama loe unik juga ya? Kalo dilihat dari nama loe kayaknya loe suka ya sama kamera? Soalnya hampir mirip. Kamra ma kamera, iya kan?”dia nyerocos tanpa merhatiin tangan gue yang indah, mulus, dan berkilauan sama sekali. Huh…

“Salah besar tau! Gue benci banget sama kamera! Eh, udah nyampe tuh!”jawab gue.

“Kita sekelas ya? Asyik nih,”kata dia sok asyik.

“Biasa aja tuh!”jawab gue enek.

 

Malam harinya di kamar gue yang gue anggap istana gue. Gue berleha – leha di kasur sambil ngrasain capeknya jadi anggota OSIS yang harus ngrelain sebagian besar waktu, tapi kalo dipikir enak juga sih. Kan gue jadi punya alasan buat nolak acara mengerikannya si Ginsha. Hehe. Eh, kira – kira si cowok baru itu lagi ngapain ya? Lah kok gue malah jadi mikirin dia sih? Cowok kulkas kayak dia aja. Tiba – tiba…

‘Kreekk’, suara pintu kamar gue menderit tanda terbuka. Sesosok wanita yang nggak lain adalah nyokap gue memasuki kamar gue. Gue hanya bisa mengintip di balik bantal gue.

“Kamra? Nak…, kamu sudah tidur?”

Gue berpura – pura sudah tertidur. Gue terdiam dan sama sekali nggak bergerak. Suara langkah kaki nyokap gue mendekati gue.

“Kamra sayang, mama tahu mama bukan mama yang baik. Selalu meninggalkan anak demi pekerjaan. Maafin mama ya sayang,”ujar nokap gue. Kemudian dia ngebelai gue sambil menitikkan air mata untuk yang kesekian kalinya lalu meninggalkan gue.

Hampir setiap malam nyokap gue nangis. Wajar sih, mungkin saja dia depresi harus ngehidupin gue tanpa bantuan seorang ayah. Pasti berat rasanya menjadi seorang ayah dan ibu sekaligus. Coba saja kejadian tujuh tahun silam itu nggak terjadi.

 

 

Aduuuhhh…,malesnya sekolah. Bete, bete, bete, gurunya pada kemana sih? Hufht, terpaksa deh.. Gue harus belajar mandiri tanpa guru! Apalagi kalo bukan belajar…. CABUT!!!hehe (jangan ditiru!sensor…). Jalan – jalan ah… Tiba – tiba…

“Kamra…,”sebuah suara orang yang terdengar dewasa menggema di telinga gue. Hm…,ternyata suara Pak Wakasek toh. Yeee… (Loh kok gue malah seneng sih ketahuan cabut???)

“Iya Pak. Ada yang bisa saya bantu?”ceile receptionist baru nih gue?hehe.

“Karena kamu anggota OSIS, tentunya kamu sudah tahu program terbaru OSIS yang akan dilaksanakan pada minggu depan bukan?”

“Hm… bukan Pak. Eh, maksud saya iya Pak,”gue menjawab pertanyaan Bapak Guru itu dengan seperempat grogi. “Program website sekolah kita kan Pak?”lanjut gue.

“Iya benar. Oh iya, jangan lupa untuk meminta bantuan anak baru yang ada di kelas 11 ipa 2. Hm, kalau tidak salah namanya Fatian Mahargya,”sambung Pak Wakasek.

“Kebetulan dia sekelas dengan saya Pak!”seru gue sambil senyum.

“Bagus kalau begitu,”sahut Pak Wakasek sambil berlalu. Lalu…

“Eh,Pak, Pak, Pak…,”seru gue setengah berteriak mengagetkan bapak itu.

“Iya?”tampak raut kebingungan di wajah Pak Wakasek.

“Memangnya, anak baru itu mau dimintai bantuan apa Pak?”tanya gue tanpa basa – basi. Biasa…LoLa (Loading Lala…hehe, Loading Lambat maksudnya).

“Kamu kan sekelas sama dia. Masa kamu tidak tahu kalau dia fotografer handal? Dia pewaris bakat ayahnya yang dulu juga fotografer profesional,”jelas Pak Wakasek seketika.

“Apa?”kepala gue pening rasanya. Ada rasa mual yang sangat dan sangat ketika gue mendengar kata ‘FOTOGRAFER’. Rasanya kata itu menempel di jidat gue terus meresap ke alam pikiran gue. Ya sudalah, akhirnya gue mengesot dari TKP bersama Pak Wakasek tadi menuju ke kelas. Karma karena CABUT!!!hehe.

 

Dua bulan lebih dua minggu lebih dua hari lebih dua jam lebih dua menit dan dua detik telah berlalu(hehe). Ternyata Tian adalah cowok yang baik, rajin menabung, dan tidak sombong,hehe. Yang jelas gue amat sangat terharu karena dia memperbolehkan gue buat cabut ketika ada acara foto 3×4 dan foto – foto lainnya. Tapiii, solusinya itu loh!!! Benar – benar sukses! Alias sukses membuat gue mencak – mencak. Gimana enggak? Masa foto gue di rapor diganti ma foto siamang? Teruuzz, kalo gue minta buat diganti sama foto Angelina Jolie atau Julia Roberts yang ada malah diganti sama foto kingkong, monyet, dskl (dan saudara keturunan lain). Hufht, tuh anak! Tapi, di balik semua itu dia bener – bener cowok yang baik. Gue dapat feel sama dia. Dia nggak pernah mempermasalahkan phobia foto gue, jadi udah lumayan lama juga gue lupa. Sampai kejadian ini terjadi…

“Heh, monyet foto,”suara menggelegar yang nggak lain dan nggak bukan berasal dari fotografer kita mengena di telinga.

“Iya maaf, Anda siapa ya?”jawab gue pura – pura bego atau emang bego?hehe.

“Huh, apaan sih loe? Oh iya Kam, loe nggak balik?”dia balik nanya.

“Males gue. Di rumah nggak ada kehidupan,”sahut gue asal.

“Ha? Emang rumah loe pindah ke kuburan Kam?” sekarang virus bego- nya pindah nih,hehe.

“Udah deh, lagi nggak mood nih. Eh duduk di situ yuk,”seru gue pas lihat ayunan anak TK di sekolah gue yang secara ajaib muncul tiba – tiba(berkat pengarang nih!hehe). Tapi, si Tian menolak ajakan gue yang mulia ini mentah – mateng. Tapi karena gue menitikkan air mata dan nari – nari di tengah lapangan kayak orang gila (emang…hehe), akhirnya dia takluk juga. Hohoho…

“Kam, boleh nanya sesuatu nggak?”tanya Tian tiba – tiba. Aduh, jangan – jangan dia mau nembak gue,hehe.

“Ha? Apaan?”jawab gue sok nggak ‘ngeh’.

“Loe manusia bukan?”pertanyaan konyol pun meluncur indah dari bibir monyongnya,hehe. Lalu dia pun melanjutkan… “Maksud gue, kenapa sih loe takut kamera? Nyokap loe kan model?”pertanyaan yang bisa bikin otak gue copot ini pun meluncur juga.

“Hm…, berat sih buat cerita ke loe. Kalo gue cerita ke loe berarti yang udah tahu soal ini ada tiga. Pertama gue, kedua Tuhan, dan ketiga loe. Gue nggak pernah bagi rahasia ini ke siapapun bahkan ke nyokap gue, tapi nggak tahu kenapa gue pengin aja bagi semua ini ke loe. Mungkin biar loe menderita juga kali ya,hehe.”gue diam sejenak. “Oke, jadi ceritanya berawal ketika gue masih punya orang tua lengkap tujuh tahun yang lalu. Gue bener – bener gadis beruntung waktu itu. Nyokap gue, seperti yang loe tahu artis dan model terkenal, sedangkan bokap gue adalah seorang fotografer.”

Gue agak terkesima juga melihat pemandangan di depan mata gue. Seorang Tian yang biasanya cool bisa terkejut ketika mendengar penjelasan gue? Oke, oke, lanjut…

“Seperti biasanya, suatu saat bokap gue dapat tawaran job di sebuah acara pernikahan seorang pejabat tinggi. Bokap gue bersama teman yang sekaligus asistennya mengambil gambar di sebuah lokasi. Namun, beberapa saat setelah itu kejadian naas terjadi. Pejabat tadi ditembak di bagian kepalanya dan tewas seketika. Otomatis suasana pernikahan yang semula menyenangkan menjadi mengerikan. Terjadi kegaduhan dimana – mana dan banyak orang yang berlari dan berteriak secara histeris. Bokap gue secara nggak sengaja berhasil memotret si pelaku pembunuhan pada saat itu dan sialnya si pelaku menyadari hal itu. Tapi, pada saat itu pelaku berhasil kabur. Bokap dan teman bokap pada saat itu masih belum menyadari bahwa mereka telah berhasil memotret wajah si pelaku. Mereka pun beraktifitas seperti biasa setelah kejadian itu. Hingga suatu saat si pelaku membuntuti bokap sampai ke rumah. Bersama gerombolan teman – temannya, si pelaku menerobos masuk rumah dan menodong bokap. Gue yang masih berupa gadis kecil pada saat itu hanya bisa menangis lalu gue disandera oleh mereka. Bokap gue yang semula tidak tertangkap dan dapat melawan mereka, kemudian tidak dapat melakukan apa – apa ketika mereka mengancam akan membunuh gue jika bokap nggak ngasih tahu mereka dimana roll kamera foto pernikahan yang dicari mereka. Bokap menjawab dia memberikannya pada teman yang sekaligus asistennya. Lalu selang beberapa detik kemudian secara kebetulan asisten bokap tersebut datang ke rumah dan terkejut bukan main ketika melihat apa yang terjadi. Salah satu pembunuh yang semula menawan gue pun melepaskan cengkeramannya dari gue dan melempar tubuh gue kemudian dengan cekatan dia menawan asisten bokap dan mengancam akan membunuhnya jika tidak menyerahkan roll kamera itu. Bokap melarangnya dan beliau terus berteriak ‘jangan’. Gue merasa bokap gue penuh dengan keberanian, kebajikan, dan kebenaran. Dengan tunduk, penuh pasrah, dan tanpa menghiraukan bokap gue akhirnya asisten bokap menyerahkannya secara cuma – cuma dan itu berarti pengkhianatan terbesar. Lalu loe tahu nggak apa yang terjadi?”

Wajah di depan gue menatap gue secara kosong, takjub, dan tak percaya kemudian menggelengkan kepalanya tanda tak tahu.

“Lalu dengan sadisnya pembunuh itu melepaskan tiga peluru dan menyarangkannya di kepala bokap gue. Gue melihat semua itu dengan kedua mata gue ini. Dan apa yang bisa gue lakuin waktu itu? Hanya menangis, menangis, dan menangis,”tangis gue meledak – ledak bercampur kebencian yang begitu dalam dan terpendam.

“Dan asisten bokap sialan itu sangat beruntung. Dia masih hidup!!! Dia nggak pantes hidup…,”suara gue yang setengah teriak semakin memompa amarah gue. Kemudian tubuh bidang Tian memberikan kehangatan di tubuh gue. Meredakan api yang semula berkoar – koar di dalam diri gue.

“Si asisten goblok itu… menghilang entah kemana…,”lanjut gue datar.

 

Tian udah dua minggu nggak masuk sekolah. Sejak kejadian itu dia nggak pernah sama sekali menampakkan batang hidungnya. Apa dia takut sama phobia gue? Phobia gue kan nggak menular… Atau dia takut nasibnya dia bakal kayak bokap? Kayaknya dia nggak minat buat motret acara pernikahan deh… Trus kenapa ya? Padahal gue udah mempercayakan rahasia terbesar gue pake acara nangis – nangisan segala lagi. Hufht… Hanya satu penilaian buruk terakhir gue tentang Tian. NGGAK GENTLE!!! Tapi, gue harus akui di balik penilaian buruk gue itu, sebenarnya benih – benih suka yang belum kesebar dan kepupuk di hati gue udah hampir sempurna. Tapi kenapa dia malah pergi? Gue jadi kangen… huss…, apaan sih? Ngelantur aja gue… tapi, gue khawatir juga sih…

Dari jauh tampak sesosok cowok yang sudah hampir merajai hati gue. Memang gue nggak yakin apa sosok itu benar dia, tapi saking penasarannya akhirnya tanpa sadar gue mengejar bayangan cowok itu. Dia menghilang, semua memudar lalu tampak seorang penjahat yang pernah membunuh bokap gue menggenggam roll di tangan kanan dan pistol di tangan kiri. Lalu, ia melesatkan peluru ke gue. Apa? Tidaaakkk… Gue selamat… Gimana bisa? Ternyata pangeran gue telah datang. Dan… ‘kriiiiiiingg…’ Gue pun terbangun dari mimpi aneh gue. Fiuh…, ternyata cuman mimpi.

‘Ting tong’ suara bel rumah gue berbunyi. Hari Minggu kayak gini jarang – jarang gue dapet tamu. Nyokap pasti jam segini juga sudah berangkat. Siapa ya? Gue intip dari balik jendela, ternyata nggak ada orang. Aneh… Eh, tapi di depan pintu ada sebuah bunga mawar putih dan kertas? Eh, bukan, bukan…, itu kan surat. Ya, surat! Gue sambar bunga dan surat itu secepat kilat. Lalu gue buka perlahan… dan …

   Dear Kamra,

 

Hari ini gue menyempatkan diri menulis surat ini sebelum gue pergi ke Australia karena suatu hal, nanti loe juga akan tahu. Bukannya gue ingin menghindar atau mengecewakan loe yang sudah bersedia menemani gue selama kita temenan dan loe yang sudah bersedia membagi rahasia loe yang begitu berharga bagi hidup loe, tapi memang kenyataannya gue nggak pantes buat loe. Gue cuman bisa ngucapin maaf, nggak bisa lebih.

 Sewaktu loe menceritakan cerita berharga loe gue cuman bisa merasa bersalah dan memendam permintaan maaf yang ingin gue ucapakan pada waktu itu. Pasti loe bakal bertanya – tanya kenapa. Karena gue adalah keturunan dari seorang ayah yang merupakan orang yang mungkin paling loe benci di dunia ini. Ayah gue adalah seorang fotografer. Dan kenyataan pahit yang harus gue terima adalah dia, bokap gue adalah asisten bokap loe yang tujuh tahun lalu mengkhianati bokap loe. Nyokap gue menceritakan semuanya ketika akan pergi ninggalin gue untuk selamanya setahun lalu. Gue juga merasa patut menanggung dosa bokap gue, Kam. Dan loe tahu? Bokap gue sudah mendapatkan balasan setimpal dari Tuhan dengan kehilangan akal sehatnya sebelum dia meninggalkan gue dan nyokap gue untuk selamanya. Gue harap loe dapat mengerti…

Gue… Gue yang hanya sebatang kara di sini cuma dapat meminta maaf ke loe. Sejak kemarin setelah gue tahu posisi gue dan loe. Gue merasa nggak pantas ada di dekat loe. Tuhan pun mengabulkan. Gue harus pergi ke Australia. Seperti yang gue bilang gue bukan menghindar, gue justru pingin ada di sisi loe, menebus kesalahan bokap gue dengan menjaga loe. Tapi, ternyata keinginan gue itu kalah dengan penyakit gue. Kanker hati yang sudah menemani gue selama satu tahun ini.

Saudara gue membiayai operasi kanker di Australia. Dan hanya ada dua pilihan dari operasi ini selanjutnya. Hidup atau mati. Gue memang ingin hidup, masih banyak hal – hal yang belum gue selesaikan di dunia. Namun, gue lebih memilih mati. Kenapa? Gue hidup sudah nggak ada gunanya. Gue sendirian. Dan gue juga ingin menebus kesalahan gue dengan kematian jika memang itu adil.

Sebenarnya gue butuh loe Kam. Hati gue udah memilih loe. Terimakasih buat semua yang sudah loe berikan. Gue masih percaya Tuhan akan memilihkan yang terbaik buat kita.

 

Gue yang melihat loe dari awan,

                                                            Tian…

 

 Gue menangis… Jadi ini sebabnya kenapa Tian nggak pernah masuk sekolah. Gue mungkin sempat pingin marah jika mendengar semua ini. Tapi rasa itu kalah dengan rasa kehilangan gue. Gue kalut… Kenapa gue nggak tahu semua ini sejak awal? Tian begitu rela mengorbankan nyawanya demi dosa yang telah ditanggungnya. Kenapa Tuhan? Kenapa dia begitu cepat singgah di hidup gue lalu menghilang sekejap mata? Gue sudah nggak peduli mau dia anak siapa atau dia kayak gimanapun gue nggak peduli lagi. Di hati gue hanya meneyebut satu nama sekarang. TIAN! Ya, Tian yang dulu selalu ada pas gue lagi sedih, seneng, atau di saat apapun. Tuhan… Kabulkanlah doa hamba-Mu ini. Semoga operasinya berjalan lancar…

 

Dua tahun kemudian…

 

Titik – titik hujan menari – nari begitu indah di luar sana. Gue menatapi mereka dari balik jendela kamar gue. Sudah dua tahun berlalu sejak kepergian pangeran hati gue. Tian… Ya, nama itu selalu dapat menguasai hati dan pikiran gue setiap harinya. Hh…, kenapa loe nggak balik Tian? Kenapa?

“Sayaang…,”suara nyokap gue mengagetkan gue dari lamunan gue.

“Iya, apa Mah?”sahut gue.

“Udah jangan ngelamun lagi dong. Ini mama buatin nasi goreng spesial buat kamu,”seru nyokap gue sambil tersenyum. Senyum yang indah.

“Makasih Mah. Eh, tapi kok baunya gosong ya Mah? Hehe… Mah, Kamra lagi pengin sendirian,”kata gue sambil tersenyum pula.

“Iya sayang. Mama ngerti kok,”sahutnya lalu pergi meninggalkan gue di keheningan senja.

            Nyokap gue sudah berubah. Dia udah ngerti kalo gue cuman butuh kasih sayang dan perhatian dari dia, bukan harta yang melimpah ruah. Nyokap pun selalu menyempatkan waktu di setiap weekend buat nemenin gue.

            ‘Ting tong’… suara bel rumah gue membuyarkan lamunan gue. Suara bel itu masih nyaring berbunyi beberapa kali. Gue pun memutuskan untuk membuka pintunya. Siapa tahu nyokap lagi ke kamar mandi. Betapa terperangahnya gue… sesosok cowok berdiri di depan gue lalu tersenyum dan berkata…

            “Hai… Kenalin aku Bintang. Tetangga baru di depan rumah kamu,”sapanya lembut dengan hias senyum di wajahnya.

            “Ha? Oh iya – iya. Gue Kamra,”sahut gue sambil gelagapan karena kaget lalu menyodorkan tangan gue.

            Yang bener aja? Ini cowok… Masa dia sih? Tapi, namanya beda kok… Trus siapa? Ah, sebodo amat yang penting dia kembali di hidup gue. Pangeran hati gue telah kembali. Oh…, Tian… Eh, salah, salah! Bintang maksudnya…. hehe.

            Semenjak itu pun hidup gue jadi ceria dan penuh semangat lagi. Dan yang terpenting adalah gue sudah menjadi… FOTOGRAFER profesional… _^

Posted by Hanna Chan in 16:57:47 | Permalink | No Comments »